Senin, 09 Juni 2008

St. Bonifasius (675-754)- Uskup, Misionaris dan Martir

Nama kecilnya adalah Winfred. Dia adalah putra seorang bangsawan di Inggris. setelah dewasa Winfred menjadi biarawan Benediktin. Pada tahun 719, Winfred dikirim ke Jerman atas perintah Paus Gregory II. Saat itu sebagian besar penduduk Jerman belum mengenal Yesus. Pada tahun 722 ketika Winfred sedang berkunjung ke Roma, Paus memintanya untuk membenahi berbagai hal dalam gereja di Jerman. Winfred kemudian diberi nama oleh Paus menjadi Bonifasius. Di Jerman Bonifasius membentuk keuskupan-keuskupan dan membawahi 13 keuskupan. Selain itu dia juga banyak menghasilkan perubahan-perubahan gemilang terutama dalam mempertobatkan rakyat Jerman yang menyembah berhala untuk menjadi pengikut Kristus. Bonifasius berusaha mengembalikan kepatuhan para rohaniwan pada Paus dan mendirikan banyak pertapaan Benediktin sebagai tempat doa.
Pada usianya yang ke-73. Bonifasius beralih ke Frisia namun dia tidak diterima. Bersama 52 orang pengikutnya, ia dibunuh dengan pedang. Bonifasius waktu itu mencoba melindungi kepalanya dengan Alkitab, namun pedang membelah Alkitab itu dan membunuhnya. Maka Santo ini dilambangkan dengan seorang Uskup dengan Alkitab yang ditusuk pedang.
Legenda menceritakan bahwa tradisi memasang pohon Natal berasal dari Santo ini. Waktu itu St. Bonofasius sedang berkunjung ke Hesse dan melihat sekelompok porang yang hendak mengorbankan seorang anak kecil bagi dewa yang tinggal di pohon. St. Bonifasius berusaha mencegahnya. Dia mengatakan bahwa para dewa tidak berdaya. St. Bonifasius menebang pohon itu dan memang tidak terjadi apapun padanya. Masyarakat disana menjadi percaya dan menjadi pengikut Kristus. Pesta perayaan St. Bonifasius dirayakan setiap tanggal 5 Juni.

Beata Kateri Tekakwitha (1656-1680)

Kateri Tekakwitha adalah warga pribumi asli Amerika pertama yang menjadi beata. Lahir di kota Auriesville, New York. Beberapa tahun sebelum Kateri lahir, Pater Isaac Joques, seorang imam Jesuit yang berkarya di tengah suku Indian dan beberapa pengikutnya dibunuh oleh orang Indian. Ibu KAteri, Kahenta adalah suku Indian Algonguin yang saat itu bermusuhan dengan suku Indian Mohawk. Kahenta melalui Pater Isaac telah mengenal Yesus dan ajaran-ajarannya. Suatu hari Kahenta diculik oleh suku Indian Mohawk dan dipaksa menikah dengan kepala sukunya. Kahenta kemudian melahirkan Kateri. Beruntung, ibunya mendidik Kateri dengan baik dan mengajarkannya tentang Kristus.
Kateri menjadi yatim piatu pada usia 4 tahun karena orang tuanya terkena wabah cacar. Kateri juga terkena wabah namun dapat disembuhkan, walaupun bekasnya masih nampak di wajahnya. Kateri kemudian dirawat oleh pamannya. Mereka adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus, namun berkat ajaran ibunya Kateri tetap rajin berdoa pada Yesus. Paman bibinya sangat marah ketika Kateri menolak lamaran seorang pria karena Kateri mau menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Yesus dengan tidak menikah. Dia kemudian diusir ke tengah hutan. Kateri tinggal sendiri di sebuah pondok di tengah hutan. Di tempat itu Kateri justru semakin rajin dalam berdoa.
Tuhan sepertinya mengutus Pastor Lambertville untuk membaptis Kateri. Pada tahun 1676, pastor tersebut sedang melewati hutan dan dia tertarik untuk melihat pondok tempat Kateri tinggal. Pastor Lambertville kemudian mengajar Kateri dan membaptisnya pada hari minggu Palma 1677. Kateri menerima komuni pertama pada hari Natal tahun 1677. Sesudah dibaptis, Kateri pindah ke koloni Kristen Indian Di Kanada. Kateri ingin menjadi biarawati tapi tidak diijinkan dengan berbagai alasan, namun dia diijinkan berkaul keperawanan pada tanggal 25 Maret 1679.
Kateri mendedikasikan hidupnya untuk doa dan Ekaristi. Dia juga banyak melakukan mati raga sehingga badannya menjadi kurus. Kateri meninggal pada 7 april 1680. Pada saat meninggal, wajahnya yang semula dipenuhi bekas cacar, secara ajaib bekas itu hilang tak berbekas. Kateri dibeatifikasi pada tahun 1986. Kateri dikenal sebagai "Bunga lili bangsa Mohawk" dan menjadi pelindung lingkungan hidup. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Juli.

St. Isodorus Petani (1070-1130)

Jalan hidupnya nampaknya biasa-biasa saja sebagai seorang petani di Madrid, Spanyol. Namun dia banyak mengalami keajaiban. Dia sering mengalami penglihatan dan konon kabarnya malaikat-malaikat kadang membantunya di ladang. St. Isodorus sangat gemar berdoa, dia tidak pernah lupa untuk mengikuti misa pagi dan waktu liburnya dihabiskan untuk mengunjungi gereja-geraja. St. Isodorus mempunyai istri yang bernama Maria de la Cabeza yang kemudian manjadi santa. Mereka hanya memiliki satu anak namun anaknya meninggal.
St. Isodorus walaupun hidup sangat sederhana, namun dia banyak memberikan teladan baik bagi orang di sekitarnya. Hidupnya senantiasa dipenuhi oleh kasih, baik terhadap Tuhan, sesama maupun binatang. St. Isodorus meninggal pada 15 Mei 1130. Dikanonisasi pada tahun 1622 bersama dengan Ignatius Loyola, Fransiscus Xaverius, Teresia Avila dan Philipus Neri. St. Isodorus merupakan pelindung petani dan komunitas desa di Spanyol dan Amerika Serikat. Makamnya terletak di Gereja St. Andreas, Madrid Spanyol.
Pesta perayaannya adalah setiap tanggal 15 Mei.

St. Paulus Miki (1564-1597) dan Kawan-kawan

Paulus Miki adalah seorang imam Jesuit pertama asli Jepang yang digantung di salib bersama 25 orang lainnya baik pastor maupun kaum awam. Mereka dihukum mati pada 5 Februari 1597 karena tidak mau mengingkari Yesus dibawah perintah Toyotomi Hideyoshi atas nama kaisar Jepang.
Paulus Miki adalah anak seorang militer Jepang yang lahir di Tounucumada di Jepang. Paulus Miki bersekolah di sekolah milik Jesuit dan menjadi seorang Pastor Jesuit pada tahun 1580. Dia sangat terkenal karena kemampuannya berkhotbah. Diantara 25 orang dieksekusi adalah seorang tukang kayu bernama Francis yang sebenarnya sedang menyaksikan eksekusi namun akhirnya ikut dieksekusi. Gabriel (19 tahun) anak seorang pesuruh Fransiscan. Leo Kinuya (28 tahun) tukang kayu dari Miyako. Diego Kisai yang bekerja pada pastor Jesuit. Joachim Sakibara, tukang masak para Fransiscan. Peter Sukejiro yang dikirim oleh Jesuit untuk menolong para tawanan. Cosmas Takeya dari Owari. Ventura dari Miyako yang dibaptis oleh Jesuit, dia sebenarnya sempat meninggalkan imannya setelah ayahnya meninggal namun bertobat setelah dibimbing kembali oleh para Fransiscan. Ke-26 martir tersebut dibeatifikasi pada tahun 1627 dan dikanonisasi pada tahun 1862. Setelah kepergian para martir para umat Kristen di Nagasaki tetap berpegang pada keyakinannya secara diam-diam hingga tiga abad kemudian ketika para misionarias kembali di Nagasaki pada tahun 1860.
Pesta perayaan St. Paulus Miki dan kawan-kawannya jatuh setiap tanggal 6 Februari.

Minggu, 08 Juni 2008

Penghayatan dalam Ekaristi

Saya ingat waktu masih kecil, jika saya sedang mengikuti misa bersama dengan keluarga, saya merasa begitu bosan dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Jika ada kesempatan, saya akan pergi berjalan-jalan keluar dan menghirup udara segar, tapi itupun tidak terlalu sering saya lakukan karena ibu pasti akan mengajak saya untuk duduk tenang di dalam Gereja. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menolak ajakan orang tua untuk pergi ke Gereja dengan berbagai alasan dan memang waktu itu perayaan Ekaristi bagiku tidak memiliki arti apa-apa, selain hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai orang Katolik, lagipula saya takut berdosa.

Kemudian menginjak masa SMU saya mulai menyukai lagu-lagu yang dinyanyikan oleh paduan suara dan inilah yang menyebabkan perayaan Ekaristi tidak begitu membosankan seperti ketika waktu masih kecil. Namun tetap saja kalau koor yang bertugas saat itu kurang begitu bagus saya akan mulai merasa tersiksa. Saya agak lupa kenapa pada akhir masa SMA, saya mulai rajin dan tidak harus dipaksa lagi untuk pergi ke Gereja. Mungkin salah satu sebabnya adalah karena saya saat itu mulai bergabung dengan Forum Kontak Pelajar Katolik di Semarang dan pelayanan Sosial "Garam" yang membuatku banyak mengenal biarawan. Saya mulai merasakan sedikit demi sedikit arti pentingnya Ekaristi dan mulai menghayati mulai dari bacaan kitab suci, kotbah dari Pastor, lagu-lagunya dan setiap urutan dari liturgi Ekaristi yang masing-masing memiliki maknanya sendiri.

Setelah saya mulai kuliah saya mulai merasakan ketenangan ketika saya mengikuti perayaan Ekaristi dan ada kerinduan yang mendalam untuk semakin sering mengikuti misa, maka saya sesekali mengikuti misa harian. Memang untuk menghayati Ekaristi tidak hanya sebagai perayaan wajib belaka namun merupakan perwujudan dari kerinduan kita untuk bertemu Yesus dan merasakan kehadiarannya lewat hosti suci yang kita santap tidaklah mudah. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk dapat sampai pada tahap itu dan bahkan sekarang pun saya terkadang masih terlalu memperhatikan hal-hal remeh. Misalnya saya melihat dulu siapa pastornya atau siapa yang bertugas sebagai paduan suara, atau saya memilih untuk ke paroki yang perayaan Ekaristinya berlangsung dengan cepat. Tapi terlepas dari semua itu saya terus berusaha untuk dapat terus merayakan Ekaristi dengan layak. Saya mencoba untuk membawanya dalam doa dan ditambah dengan adorasi di depan sakramen Mahakudus.

Saya menulis ini karena saya sering mendengar bahwa ada beberapa orang yang mengeluh ketika mengikuti Misa dengan berbagai alasan. Kotbahnya yang membosankan, liturginya yang terlalu lama, koornya yang jelek atau karena tidak menyukai Pastor dalam suatu paroki. Ini memang alasan yang manusiawi, bahkan saya rasa sebagian besar umat katolik juga menyadarinya. Ada juga yang mengatakan bahwa berdoa bisa dimana saja tidak hanya di Gereja saja.Untuk semua alasan tersebut saya hanya bisa mengatakan bahwa perayaan Ekaristi adalah puncak dari kehidupan iman kita sebagai umat Katolik karena disanalah kita mengenangkan kembali perjamuan terakhir seperti yang diperintahkan oleh Yesus sendiri. Dan Yesus memang sungguh-sungguh hadir dalam hosti suci. Adalah sebuah anugerah untuk dapat merasakan kehadiran Yesus dalam perayaan Ekaristi,namun kita juga harus mengusahakannya dengan berdoa dan juga membaca kitab suci, kita juga bisa membaca kesaksian mereka yang diubahkan hidupnya melalui Ekaristi. Kita mengikuti perayaan Ekaristi adalah untuk bertemu dengan Yesus sang Juruselamat dan ketika kita merayakannya, kita bergabung dengan pera malaikat dan orang kudus di surga dan terutama dengan Bunda Yesus, Maria. Terlepas dari siapa imam yang memimpin, sebaik apakah para petugasnya, kita harus mengesampingkan semua itu dan sungguh-sungguh larut dalam perayaan Ekaristi. Berdoalah dan mohonlah pada Tuhan untuk menumbuhkan dalam hati kita kerinduan akan Ekaristi.

Sabtu, 07 Juni 2008

Mengembalikan Milik Orang

Aktor kenamaan Burt Lancaster, waktu kecil adalah seorang anak miskin dari New York. Ada suatu kenangan tak terlupakan di masa kecilnya. Pada suatu hari, ia menemukan uang $20 di jalan yang pada waktu itu nilainya cukup besar. Ia sudah membayangkan barang-barang yang akan ia beli dengan uang tersebut. Kemudian ia melihat seorang wanita tua yang sangat sederhana datang tergopoh-gopoh dan mencari sesuatu di tempat ia memungut uang. Dengan wajah sedih wanita itu berkata : "Anak manis apa engkau melihat uang $20 di jalan ini? Saya merasa terjatuh disini. Apa jadinya kalau uang itu tidak kutamukan?" Wanita itu lalu menangis. Hati nurani Burt bergejolak. Apakah ia harus mengembalikan uang itu dan segala keinginannya terhapus begitu saja? Tapi akhirnya tangannya terulur kepada wanit itu dan berkata dengan mantap : "Ini uangnya nyonya, saya telah menemukannya." Dengan tangan gemetar nyonya tua itu menerima uangnya, lalu memeluk dan mengecup dahi Burt dengan sangat bahagia. Kemudian, setelah menjadi orangyang sangat terkenal, Burt Lancaster bercerita bahwa peristiwa di masa kecil itulah peristiwa yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Kamis, 03 April 2008

St. Yakobus Tua (James The Greater)

St. Yakobus Tua merupakan salah satu dari ke-12 Rasul pertama. Rasul Yakobus adalah saudara Yohanes anak Zebedeus. Keduanya bersama dengan Rasul Petrus merupakan 3 Rasul inti. Ada beberapa kisah dalam Injil yang menceritakan pengalaman istimewa yang dialami 3 rasul inti bersama dengan Yesus. Ke-3 Rasul inti menyaksikan ketika Yesus membangkitkan anak Jairus. Mereka juga menyaksikan ketika Yesus dimuliakan diatas gunung Tabor dan menemani Yesus di taman Getzemani. Rasul Yakobus dan Yohanes memiliki temperamen yang sangat keras sehingga mereka dijuluki Yesus sebagai anak-anak guruh. Pada Matius 20:20-28 diceritakan bahwa Ibu Rasul Yakobus dan Yohanes menghadap Yesus dan meminta supaya mereka boleh duduk di samping Yesus dalam kerajaan-Nya. Permintaan tersebut membuat murid lainnya menjadi marah pada mereka.

Rasul Yakobus merupakan salah satu martir pertama dalam Gereja. Dia dibunuh dengan pedang oleh orang suruhan Raja Herodes Agrippa I. Setelah Rasul Yakobus meninggal, ada legenda yang menceritakan bahwa tubuhnya disimpan di Katedral "Santiago de Compostella" di Galicia, Spanyol. Jasadnya dibawa oleh malaikat ditempatkan di sebuah perahu yang berlayar ke laut Mediterania melalui selat Gibraltar dan mendarat di pelabuhan Galicia. Ada juga legenda yang menceritakan bahwa setelah dipenggal, tubuhnya dibawa oleh murid-muridnya di Yudea dan dibawa melewati laut ke Iberia dan mendarat di Galicia untuk dikuburkan di tempat yang sekarang menjadi Katedral "Santiago Del Compostella". Disana jasadnya terletak hingga abad ke-9 dimana seorang pertapa bernama Pelagius yang tinggal di Galicia mengalami penglihatan sebuah bintang di suatu tempat yang membawanya ke sebuah kuburan kuno berisi 3 jasad. Pelagius lalu melaporkannya ke Theodomir Uskup setempat yang lalu mengumumkan bahwa ketiga jasad tersebut adalah jasad Rasul Yohanes dan 2 muridnya. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Raja Asturias, Alphonso II yang menetapkan Rasuk Yakobus sebagai pelindung Spanyol. Sebuah desa bernama Campus de la Stella (ladang bintang) dan sebuah pertapaan didirikan di kuburan tersebut. Kabar mengenai kuburan tersebut menyebar dan para peziarah mulai berdatangan dan banyak mukjizat terjadi. Hingga saat ini Santiago Del Compostella menjadi salah satu tempat peziarahan yang ramai dikunjungi.
Pesta peringatan Rasul Yakobus dirayakan setiap tanggal 25 Juli.